Kumpulan " Puisi Natal Anak Sekolah Minggu " Terbaru 2019

Puisi Natal Anak Sekolah Minggu begitu menambah semarak dalam menyambut natal di tahun ini, sudah sering kita dengar akhir - akhir ini puisi natal yang dibacakan dan diungkapkan anak - anak dalam menyambut natal di tahun ini. Puisi natal tak jarang diperlombakan di setiap gereja, baik dari anak -anak sampai orang tua. semakin bagus dalam membacakan dan menghayati dalam menyampaikan puisi semakin indah di pendengaran kita.



Anak - anak sekolah minggu ramai - ramai menulis suatu syair atau tulisan tentang puisi natal, mereka sangat antusias dalam membuat puisi natal untuk mengekspresikan karya mereka dan ungkapan mereka kepada kelahiran Juruselamat Tuhan Yesus Kristus. Bait demi bait mereka tulis dengan penuh penghayatan, disini kita sebagai orang tua bisa menambah suport kepada mereka dalam membantu menambahkan atau mengoreksi puisi yang anak - anak kita buat agar susunan bait demi bait bisa puisi tersebut dapat di mengerti tujuan dan maksu dari puisi natal yang anak - anak kita buat.

Baca Juga : Kumpulan Lirik Lagu Natal Anak Sekolah Minggu

Oleh sebab itu disini saya akan membagikan sedikit contoh tentang Puisi Natal Anak Sekolah Minggu yang bisa anda lihat sebagai contoh atau untuk dijadikan referensi dalam membuat puisi juga bisa langsung anda bacakan pada saat natal di manapun anda berada.

NATAL YANG TEDUH

Natal telah menjadi puisi alam raya
Hiruk-pikuk pekik sorak hura-hura
Apalagi cuma gegap gempita iklan
agaknya sudah tidak diperlukan

          Mohon jangan gaduh
          Sang Bayi Penebus bumi
          masih tertidur nyenyak
          dalam dekapan Bunda terkasih
          semua ilalang, seisi kandang
          adalah segala yang teduh
          dalam syukur dan simpuh

Ya, Natal itu puisi alam raya
karena itu jangan gaduh
bumi kita telah ditebus
perlu istirahat dan tidur
Ia sudah amat lelah

           bekerja keras menata nasib
           beri kesempatan ia bermimpi
           biarkan ia merindu dan mencinta
           merdeka dari segala tetek bengek
           yang makin menjauhkan bumi kita
           dari sang keabadian sendiri

LONCENG NATAL

Teng………
Teng………
Teng………

           Bunyi lonceng berdentang,
           Berkumandang di malam sunyi,
           Membangunkan kami,

Mama, Papa, Ade, Kaka….
Mengingatkan kami
Hari ini Yesus Raja Damai Telah Lahir.

SENANDUNG NATAL

Nyanyi suci di malam hari
Mengalun setanggi sesela hati
Adik mengapa dikau sendiri
Bersama abang mari ziarah ke gereja suci

          Sunyi hati di gelap hari
          Serangga mati di nyala api
          Kristus janganlah pergi sertai kami
          dalam sepi jalan sendiri

Dan bulan, kerinduan yang dalam
menikam nurani pengembara di perlawatan
Tuhan di palungan betapa pun kebesaran
Manusia nikmat tertidur di peristirahatan

          Nyanyi suci di malam sepi
          Mengalun hati diayun setanggi
          Adik mari berlutut di sini
          Tuhan hadir bagi insane

Sunyi suci di gelap dini
Berayun hati digetar nyanyi
Dan adik mari bukakan diri
Kristus istirahlah di hati kami

          Kristus! Lindungilah dan berkati
          Ajar kami berendah-hati
          Dan biarlah tanganmu suci
          di dahi kami tersilang aman abadi
          By: Suparwata Wiraatmadja

BAYI MUNGIL

Hai Semua,….
Mari lihat,
Bayi Mungil di Betlehem,
Di dalam Palungan,
Bayi Yesus tidur nyenyak,
Maria dan Yusuf menjagaNya,
Anak Kudus yang terlelap.
Vincent Wenno

         Yesus Lahir, Kawan…..
         Yesus telah lahir kawan,
         Hatiku amat senang,
         Mari kita semua bergirang,
         Menyambut Jurus’lamat yang datang,
         Menghampiri semua orang,
         Untuk memberi kasih sayang…
         Bagi kita semua. 
         (Vincent Wenno)
YANG KUDUS
Oleh: George MacDonald

Mereka semua mencari seorang raja 
Membantai musuh mereka dan mengangkat mereka; 
Engkau datang, seorang bayi kecil
Kedatangan-Mu membuat seorang perempuan menangis.
O, Anak manusia, luruskan hidup saya yang sia-sia
Kehadiran-Mu memberi arti; 

Bukan karena roda-roda-Mu di jalan,
Juga bukan karena lautan yang 
Kau arungi! Engkau tidak peduli bagaimana atau siapa saya, 
Bahkan Engkau turun ke dunia
Untuk menjawab semua kebutuhan saya,
Ya, setia doa yang telah dipanjatkan

SELAMAT DATANG DI HATIKU
Oleh: C. Mouwlaka

malam sudah larut meninggalkan jejak
siang yang panjangdi padang rumput di lembah sepi
meringkuk dalam selimut malam yang dingin
beberapa gembala dan domba gembala

sayup-sayup ada suara pujianturun membelah langit 
malam yang hening menjadi terbangun
segala yang hidup menatap angkasa yang penuh tentara surgawi
dan terang surgawi membuka KASIH BAPA
”SEGALA PUJI BAGI ALLAH DI TEMPAT MAHA TINGGI 
 DAN DAMAI SEJAHTERA ATAS BUMI  

DI ANTARA ORANG YANG BERKENAN PADANYA” 
Tuhan Yesusselamat datang di duniaselamat datang di bumi
Selamat datang di antara manusia
Selamat datang di hati papa  selamat datang di hati mama 
selamat datang di hatiku

DOA NATAL

Ya Tuhan,Terang sudah tiba,
 Lilin di Betlehem menyala.
Tolonglah saya untuk bersukacita dalam terang
dan dalam cahaya itu melihat sesama saya apa adanya.
Tolonglah saya untuk tetap mengenal diasementara 
Natal tiba, dan cakrawala malam,
sekali lagi dipenuhi dengan terang kelahiran-Mu. Amin!


SENANDUNG NATAL
Oleh: Suparwata Wiraatmadja

Nyanyi suci di malam hari 
Mengalun setanggi sesela hati
Adik mengapa dikau sendiri 
Bersama abang mari ziarah ke gereja suci

Sunyi hati di gelap hari
Serangga mati di nyala api
Kristus janganlah pergi sertai kamidalam sepi jalan sendiri
Dan bulan, kerinduan yang dalammenikam nurani pengembara di perlawatan

Tuhan di palungan betapa pun kebesaran
 Manusia nikmat tertidur di peristirahatan
 Nyanyi suci di malam sepi 
Mengalun hati diayun setanggi Adik mari berlutut di sini

Tuhan hadir bagi insani
Sunyi suci di gelap dini 
Berayun hati digetar nyanyi 
Dan adik mari bukakan diri

Kristus istirahlah di hati kamiKristus! 
Lindungilah dan berkati 
Ajar kami berendah-hati 
Dan biarlah tanganmu sucidi dahi kami tersilang aman abadi


HAKIKAT NATAL

Lonceng-lonceng dan genta-genta
berdentang-dentang pada hari natal
Lagu-lagu natal yang sudah kita kenal
O, betapa indah seru nafiri dari langit
“Damai Sejahtera di bumi, di antara

manusia yang berkenan kepadaNya!”
Umpama pada hari natal
lonceng genta di semua gereja
tiada henti melagukan tembang sama
“Damai Sejahtera di bumi, di antara

manusia yang berkenan kepadaNya!”
mungkin kita lalu putus asa dan terluka
Sebab damai di bumi sudah langka
hasrat berkuasa manusia makin riuh
buah-buahnya, o,  mengerikan
sang tembang kedamaian
menjadi lagu olok-olok

“Damai Sejahtera di bumi, di antara
manusia yang berkenan kepadaNya!”
hohohuhuhaha, olok-olok jalan terus
tapi tembang damai bergulir terus
dentang gemanya semakin lantang
siapa berkenan kepadaNya berderap
siapa berkehendak baik berpadu
dengan butir-butir waktu
dengan pernik-pernik ruang
sebab  hakikat sang natal
adalah tawaran cintakasih
dari pusat-pusat keabadian
bagi kita semua

CAHAYA YANG TINGGAL TETAP

Ucapan-ucapan dan lagu-lagu Natal sudah berakhir
Kegembiraan perayaan Natal sudah berlalu
dengan para malaikat naik ke Surga,
Orang-orang majus kembali ke Timur.

Tetapi terang yang pernah bersinar di sebuah palungan
Masih menerangi dunia dari kejauhan,
Dan hati yang taat masih mendengarkan nyanyian para malaikat
Dan orang bijak masih mengikuti sebuah bintang
(Ellis Rowsey)

SANG WAKTU

Tak ada waktu pada-Nya
Karena Ia tak berwaktu
Namun Ia yang tak berwaktu,
telah membatasi diri-Nya oleh waktu

Dalam kesunyian malam itu,
waktu-Nya mulai dihitung
Ketika tangisan-Nya yang pertama menggema
Mendetakkan waktu-Nya yang pertama di bumi.

Oh, Sang penentu waktu yang tak berwaktu
Mengapa Engkau membiarkan diri-Mu di atur oleh waktu?
Mengapa Engkau merelakan diri-Mu dibatasi oleh waktu?
Mengapa Engkau menghadirkan diri-Mu ke dalam waktu?

Malam itu, dalam lenguhan hewan yang tak mengenal waktu
Engkau datang untuk memberi waktu yang baru bagi dunia
Engkau datang untuk menawarkan waktu sebagai anugerah
Engkau datang untuk mengatakan waktunya tidak lama lagi
Sebab dunia yang terbatas oleh waktu akan segera berakhir di dalam waktu

Engkau datang untuk mengatakan, waktuku adalah saat ini
Engkau datang untuk mengatakan kepadaku,
waktu-ku hanya sementara di sini
Engkau datang untuk mengatakan,
Berdamailah dengan Aku Sang Waktu yang sejati
Agar aku dapat bersama-Mu tanpa waktu.
(Roos Lusy)
HATIMU, BILIK TERINDAH BAGI-KU

Aku hendak turun untuk melihat-lihat
Bagaimana kehidupan manusia yang Ku ciptakan
Sebab telah lama Ku dengar kabar tentang mereka
Kabar yang sungguh memilukan hati-Ku

Aku telah merancangkan dari mulanya
Bahwa mereka akan hidup di hadapan-Ku
Bersama dengan-Ku selamanya
Bahwa jika mereka bersama-Ku
Mereka tidak akan pernah mengalami kekurangan

Aku sedih, ketika waktu itu
Di rumah yang begitu indah dan mewah
Yang Kuberikan sebagai hadiah pertama-Ku
Aku mendapati mereka telanjang
Telanjang di tengah-tengah segala kelimpahan harta
yang telah Ku sediakan, hanya bagi mereka

MENGAPA? APAKAH SEMUA ITU TIDAK CUKUP?

Malam itu, setelah ribuan tahun terlewatkan
Aku datang, datang kembali mengunjungimu
Aku mendapati engkau terlalu sibuk,
Sibuk dengan dirimu sendiri
Hingga kehadiran-Ku tak engkau pedulikan
Tak ada tempat di rumahmu bagi-Ku

Di mana? Di mana tempat yang hangat yang bisa Aku tempati
Tuk menghangatkan tubuh mungil-Ku yang kedinginan?
Tak ada! Tidak ada satu pun bilik yang kosong di rumahmu
Hanya kandang hewanmu yang tersisa untuk-Ku
Namun tidak mengapa
karena itu pun sudah cukup bagi-Ku waktu itu

Seandainya saat ini engkau telah menyadari
Bahwa Aku telah datang kembali untukmu
Tolong, bukalah bilik hatimu,
agar Aku dapat masuk dan tinggal di sana
Dan menjadikannya bilik terindah bagi-Ku dan bagimu.

DAMAI

Damai….?
Ingat pertama kali berjumpa di Eden, betapa indahnya
Kehadiranmu di sisi manusia, sangat menyejukkan
Sebab semuanya hanyalah engkau dan mengenai engkau
Tiada yang kurang saat itu
Hanya kesempurnaan saja adanya

Pengkhianatan …, mengapa? Mengapa hal itu harus terjadi?
Mengapa engkau dikhianati oleh manusia yang engkau kasihi?
Terbuang, terjual, terasingkan, dijauhkan
hanya karena tawaran, sebuah kehormatan yang kosong!

Namun sejak saat itu dan seterusnya
Engkau telah menjadi kerinduan yang tak berujung
Sejak di Eden, engkau terus di cari
Entah ke mana pergimu …
Meski segala cara telah di tempuh
Segala taktik telah di coba
Namun engkau tak pernah lagi menjawab

Perang, pembunuhan, pertikaian, perselisihan …
Gaduh … buntu … tamat ….!!!
Inikah akhirnya? Tanpa kedamaian?
Masih adakah harapan?
Masih hidupkah engkau?

Malam itu, sejak kesenyapan yang terjadi di Eden
Sayup-sayup terdengar lagi nyanyian yang telah lama hilang
“… damai di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.”
Engkaukah itu? Engkaukah yang telah kembali?

Ya, itu adalah engkau
dengan ciri yang melekat pada dirimu
Meski aroma kotoran hewan memenuhi rongga dadamu
Namun engkau tetap tenang dalam hangatnya palunganmu
Engkau datang kembali dalam rupa seorang bayi mungil
Dengan rautan wajah penuh kehangatan

Damai …
Damai di bumi …
Dan Engkau kembali
Tuk berdamai dengan manusia.

SENANDUNG NATAL
Oleh: Suparwata Wiraatmadja

Nyanyi suci di malam hari
Mengalun setanggi sesela hati
Adik mengapa dikau sendiri
Bersama abang mari ziarah ke gereja suci

Sunyi hati di gelap hari
Serangga mati di nyala api
Kristus janganlah pergi sertai kami
dalam sepi jalan sendiri

Dan bulan, kerinduan yang dalam
menikam nurani pengembara di perlawatan
Tuhan di palungan betapa pun kebesaran
Manusia nikmat tertidur di peristirahatan

Nyanyi suci di malam sepi
Mengalun hati diayun setanggi
Adik mari berlutut di sini
Tuhan hadir bagi insani

Sunyi suci di gelap dini
Berayun hati digetar nyanyi
Dan adik mari bukakan diri
Kristus istirahlah di hati kami

Kristus! Lindungilah dan berkati
Ajar kami berendah-hati
Dan biarlah tanganmu suci
di dahi kami tersilang aman abadi

PUISI NATAL
Oleh: Leengnalty

Suara lonceng mulai terdengar hingga ke sudut-sudut kota
mengalun lembut selimuti jelang hari.
“sepertinya hujan tak jadi turun malam ini”

Dinginnya angin di bawah bulan penuh
serukan kedamaian di hari berbahagia.
Pujian dan syukur berpendar-pendar dari dalam gereja,
menerangi malam yang syahdu.

Di remang jiwa yang percaya
hingga tiada ganti akan kasihnya.
“semoga kita bertemu malam nanti”

Mari Datang Kepada-Nya
Sarlen Julfree Manurung

Satu hari di bulan Desember
Dentang lonceng Gereja riuh bersahutan
Memanggil, mengundang anak-anak Tuhan untuk datang
“Mari masuk, mari semuanya masuk…”
Pintu Rumah Tuhan telah terbuka

Terbuka untukku, untuk kamu, untuk mereka, untuk kita semua,
Sehingga kita bisa larung dalam sukacita,
Bersama-sama merayakan, lahirnya bayi Yesus di Bethlehem
Raja di atas segala raja, Tuhan, Juru Selamat manusia


DOA NATAL

Ya Tuhan,
Terang sudah tiba,
Lilin di Betlehem menyala.

Tolonglah saya untuk bersukacita dalam terang
dan dalam cahaya itu melihat sesama saya apa adanya.

Tolonglah saya untuk tetap mengenal dia
sementara Natal tiba, dan cakrawala malam,
sekali lagi dipenuhi dengan terang kelahiran-Mu.
Amin!


YANG KUDUS
Oleh: George MacDonald

Mereka semua mencari seorang raja
Membantai musuh mereka dan mengangkat mereka;
Engkau datang, seorang bayi kecil
Kedatangan-Mu membuat seorang perempuan menangis.

O, Anak manusia, luruskan hidup saya yang sia-sia
Kehadiran-Mu memberi arti;
Bukan karena roda-roda-Mu di jalan,
Juga bukan karena lautan yang Kau arungi!

Engkau tidak peduli bagaimana atau siapa saya,
Bahkan Engkau turun ke dunia
Untuk menjawab semua kebutuhan saya,
Ya, setia doa yang telah dipanjatkan.

Desember telah tiba
Nuansa hijau, merah dan emas ada di mana-mana
Kidung nan indah pun menyeruak di keramaian
Orang-orang mulai menyibukkan diri dengan ibadah dan pesta
Kue-kue yang lezat dan rencana liburan
Tak lupa kado terindah untuk yang terkasih
Di hari Natal yang bahagia
Di antara gempita menggegap
Ijinkanku menyapamu wahai sahabat

Kau yang kesepian tanpa teman dan keluarga
Kau yang terbaring sakit dan terkulai lemah
Kau yang tersisih di suatu pojok yang gelap
Kau yang bertanya sendiri seperti apakah Natal kali ini
Natal ini masih milikmu

Dalam keriuhan pun dalam kesendirian
Natal datang menghampiri semua orang
Untuk satu alasan: Allah sungguh mengasihi dunia ini
Putra Natal datang untukku juga untukmu

Kamu tidak dilupakan-Nya Natal kali ini
Allah mengasihimu adalah berita indahnya
Selamat Natal, sahabatku..

Ku berikan apa,
Yesus, bagiMu??
Andai ku seorng gembala,
Ku’bri domba ku.
Andai ku orng Majus,
Mas, kemenyan dan mur
akan ku berikan
Tpi apa yg akan ku berikan padaMu
Di hari Natal ini???????

Hanya hati bersyukur !!!
“Amin”

KETIKA CAHAYA DARI SURGA BERSINAR

“Damai di atas bumi, di antara orang yang
berkenan kepada-Nya”,
berkumandang di angkasa.
Ketika cahaya dari surga bersinar, hilanglah semua kegelapan.
Malaikat Tuhan turun ke bumi
dan membawa berita yang jelas.
Ketika cahaya dari surga bersinar, aku mendengar
malaikat berkata,
“Jangan takut, aku memberitakan kabar sukacita,
Karena Kristus telah lahir hari ini.”
Ketika cahaya dari surga bersinar,
nampak pemandangan yang indah;

Damai Allah dan kesukaan surgawi
turun ke dunia pada malam itu.
Cahaya dari surga masih bersinar
dan malaikat-malaikat masih bernyanyi;

Karena Kristus masih memberikan damai dan sukacita
dalam kehidupan, tempat Dia bertahta.
Amin

HATIMU , BILIK TERINDAH BAGIKU

Aku hendak turun untuk melihat-lihat
Bagaimana kehidupan manusia yang Ku ciptakan
Sebab telah lama Ku dengar kabar tentang mereka
Kabar yang sungguh memilukan hati-Ku
Aku telah merancangkan dari mulanya
Bahwa mereka akan hidup di hadapan-Ku
Bersama dengan-Ku selamanya
Bahwa jika mereka bersama-Ku
Mereka tidak akan pernah mengalami kekurangan
Aku sedih, ketika waktu itu
Di rumah yang begitu indah dan mewah
Yang Kuberikan sebagai hadiah pertama-Ku
Aku mendapati mereka telanjang
Telanjang di tengah-tengah segala kelimpahan harta
yang telah Ku sediakan, hanya bagi mereka
Mengapa? Apakah semua itu tidak cukup?
Malam itu, setelah ribuan tahun terlewatkan
Aku datang, datang kembali mengunjungimu
Aku mendapati engkau terlalu sibuk,
Sibuk dengan dirimu sendiri
Hingga kehadiran-Ku tak engkau pedulikan
Tak ada tempat di rumahmu bagi-Ku
Di mana? Di mana tempat yang hangat yang bisa Aku tempati
Tuk menghangatkan tubuh mungil-Ku yang kedinginan?
Tak ada! Tidak ada satu pun bilik yang kosong di rumahmu
Hanya kandang hewanmu yang tersisa untuk-Ku
Namun tidak mengapa
karena itu pun sudah cukup bagi-Ku waktu itu
Seandainya saat ini engkau telah menyadari
Bahwa Aku telah datang kembali untukmu
Tolong, bukalah bilik hatimu,
agar Aku dapat masuk dan tinggal di sana
Dan menjadikannya bilik terindah bagi-Ku dan bagimu.
Amin

DAMAI

Damai….? Ingat pertama kali berjumpa di Eden, betapa indahnya
Kehadiranmu di sisi manusia, sangat menyejukkan
Sebab semuanya hanyalah engkau dan mengenai engkau
Tiada yang kurang saat itu
Hanya kesempurnaan saja adanya
Pengkhianatan …, mengapa? Mengapa hal itu harus terjadi?
Mengapa engkau dikhianati oleh manusia yang engkau kasihi?
Terbuang, terjual, terasingkan, dijauhkan
hanya karena tawaran, sebuah kehormatan yang kosong!
Namun sejak saat itu dan seterusnya
Engkau telah menjadi kerinduan yang tak berujung
Sejak di Eden, engkau terus di cari
Entah ke mana pergimu …
Meski segala cara telah di tempuh
Segala taktik telah di coba
Namun engkau tak pernah lagi menjawab
Perang, pembunuhan, pertikaian, perselisihan …
Gaduh … buntu … tamat ….!!!
Inikah akhirnya? Tanpa kedamaian?
Masih adakah harapan?
Masih hidupkah engkau?
Malam itu, sejak kesenyapan yang terjadi di Eden
Sayup-sayup terdengar lagi nyanyian yang telah lama hilang
“… damai di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.”
Engkaukah itu? Engkaukah yang telah kembali?
Ya, itu adalah engkau
dengan ciri yang melekat pada dirimu
Meski aroma kotoran hewan memenuhi rongga dadamu
Namun engkau tetap tenang dalam hangatnya palunganmu
Engkau datang kembali dalam rupa seorang bayi mungil
Dengan rautan wajah penuh kehangatan
Damai … Damai di bumi …
Dan Engkau kembali
Tuk berdamai dengan manusia. Amin

SANG WAKTU

Tak ada waktu pada-Nya
Karena Ia tak berwaktu
Namun Ia yang tak berwaktu,
telah membatasi diri-Nya oleh waktu
Dalam kesunyian malam itu,
waktu-Nya mulai dihitung
Ketika tangisan-Nya yang pertama menggema
Mendetakkan waktu-Nya yang pertama di bumi.
Oh, Sang penentu waktu yang tak berwaktu
Mengapa Engkau membiarkan diri-Mu di atur oleh waktu?
Mengapa Engkau merelakan diri-Mu dibatasi oleh waktu?
Mengapa Engkau menghadirkan diri-Mu ke dalam waktu?
Malam itu, dalam lenguhan hewan yang tak mengenal waktu
Engkau datang untuk memberi waktu yang baru bagi dunia
Engkau datang untuk menawarkan waktu sebagai anugerah
Engkau datang untuk mengatakan waktunya tidak lama lagi
Sebab dunia yang terbatas oleh waktu akan segera berakhir di dalam waktu
Engkau datang untuk mengatakan, waktuku adalah saat ini
Engkau datang untuk mengatakan kepadaku,
waktu-ku hanya sementara di sini
Engkau datang untuk mengatakan,
Berdamailah dengan Aku Sang Waktu yang sejati
Agar aku dapat bersama-Mu tanpa waktu.
AMIN


ULTAH-NYA

Berlapis kemeja baru
dengan kaki jeans biru
aku datang ke ultahNya

Padahal aku tak membawa
secuilpun kado tuk diberi
tapi Ia terus terbuka
ia terus memberkati

Tanpa henti
ku hanya bisa
menyanyi
memuja, memuja-memuji
melakukan yang Ia hendaki
sampai mati.

PUJILAH NAMA-NYA SELALU

Saat malam tiba
Ada terang bintang bersinar yang sangat indah
Tidak seperti bintang biasa …
Bintang itu memberikan tanda
bahwa Sang Juru Selamat sudah hadir di bumi ini
Untukku, kamu, dan kita semua

Yang percaya pada Kristus… Sang Juru Selamat
Kita patut berbangga dan bersukacita
Karena kedatangan-Nya membawa anugerah
bagi setiap orang yang mau menerima-Nya

Nyanyikan pujian, penyembahan untuk kemuliaan Kristus
Nyanyikan senantiasa dengan penuh ucapan syukur
Pujilah nama-Nya selalu…


MAUKAH ENGKAU..?

“Maukah engkau menggendong bayi ini?”
Maria yang lembut mungkin berkata begitu
Kepada gembala-gembala yang sedang berlutut
Di sisi tempat tidur bayi yang kudus.
“Maukah engkau menggendong bayi ini?”
Dia mungkin berkata begitu kepada orang-orang tua
Kepada orang-orang majus yang mempersembahkan
Emas, kemenyan, dan mur kepada-Nya.
“Maukah engkau menggendong bayi ini?”
Ia mungkin berkata begitu kepada kita
“Menyimpan semangat dan berkat Natal
Jauh di lubuk hatimu?”

LONCENG NATAL

Saya mendengar lonceng berdentang pada hari Natal
Lagu-lagu Natal yang sudah dikenal,
Betapa nyaring dan merdunya kata-kata yang terdengar lagi
Damai sejahtera di bumi,
Di antara manusia yang berkenan kepada-Nya!
Saya berpikir, seandainya pada hari Natal,
semua lonceng yang tergantung di menara gereja
Memainkan lagu tanpa hentinya
Damai sejahtera di bumi,
Di antara manusia yang berkenan kepada-Nya!
Dan dalam keputusasaan saya menundukkan kepala;
“Tidak ada damai di bumi,” kataku;
“Karena kebencian ada di mana-mana, dan mengejek lagu
tentang Damai sejahtera di bumi,
Di antara manusia yang berkenan kepada-Nya!”
Tetapi suara lonceng yang berdentang bergema semakin kuat:
“Tuhan tidak mati atau tertidur!
Yang jahat akan jatuh, yang benar akan menang,
Damai sejahtera di bumi,
Di antara manusia yang berkenan kepada-Nya!”
Lonceng terus berbunyi, berdentang,
Bumi berputar dari malam hingga pagi,
Suara, lonceng, nyanyian agung, terdengar merdu,
Damai sejahtera di bumi,
Di antara manusia yang berkenan kepada-Nya!

MALAM YANG SUNYI INI

Sst,
Bayi itu tidur
Dalam buaian ibu-Nya yang penuh kasih.
Malam sunyi,
Dan hewan ternak dalam kandang mendekam
Diam menyembah tanpa suara

Sst,
Dunia tertidur
Dalam mimpi bayi Yesus yang penuh kasih ini.
Hati kita tenang
Dan pikiran kita yang bercabang
Segera tenang dalam penyembahan yang tiada batasnya
Tidurlah, Nak, tidurlah
Tidur dalam kekudusan-Mu.
Tidurlah, bumi, tidurlah
Dalam perlindungan Tuhan

PUISI MALAM NATAL

Makanlah Rumputmu
Memang kerbau berotak dungu
Hanya bisa melenguh dan merumput
Setelah kenyang langsung mendengkur
Terjaga hanya ketika mendengar domba-domba mengembik

Hah!
Mengapa pula kau meributkan domba-domba itu?
Bukankah kalian dipelihara oleh tuan yang sama?
Bukankah kalian diberi makan rumput yang sama?
Dasar kerbau berotak dungu
Mentang-mentang berbadan besar bertanduk tajam
Seenaknya saja mengaku raja
Raja berotak dungu
Hei Domba!
Jangan mengembik terlalu berisik
Nanti kerbau berotak dungu marah
Ah, dasar kerbau dan domba sama-sama berotak dungu
Tuanmu sudah memberi masing-masing gembala
Jadi, makanlah rumputmu saja

RISAU HATI ANAK

Papa,
Mengapa memasang pohon terang di rumah kita?
Mengapa kita pakaikan kapas bak salju?
Mengapa Papa berpakaian bak Sinterklas?

Mengapa kita tidak bikin kandang?
Mengapa kita tidak buatkan palungan?
Mengapa kita tidak hadirkan domba?

Kata Papa,
Sang Juru Selamat lahir bukan di pohon terang
Apalagi berhias salju
Pun tanpa kehadiran Sinterklas
Lalu, Natal siapa yang kita rayakan?

Baca Juga : Lirik Lagu Pujian dan Penyembahan Anak Sekolah Minggu

ASALKAN YESUS BERSAMA KITA

Tidak apa-apa Papa
Bila Natal kali ini aku memakai baju yang lama
Aku akan tetap lebih gemerlap daripada pohon terang itu
Karena sukacita berpendar dihatiku
Tidak apa-apa Mama
Sepatuku yang lama masih indah dipandang
Bintang pengharapan menuntunku tetap
Membawaku percaya dengan hati mantap
Tidak ada kue lezat dan kado berpita
Sungguh tidak mengapa Papa Mama tercinta
Asalkan Yesus bersama kita
O alangkah indahnya hidup kita

LONCENG NATAL

Saya mendengar lonceng berdentang pada hari Natal
Lagu-lagu Natal yang sudah dikenal,
Betapa nyaring dan merdunya kata-kata yang terdengar lagi
Damai sejahtera di bumi,
Di antara manusia yang berkenan kepada-Nya!
Saya berpikir, seandainya pada hari Natal,
Semua lonceng yang tergantung di menara gereja
Memainkan lagu tanpa hentinya
Damai sejahtera di bumi,
Di antara manusia yang berkenan kepada-Nya!
Dan dalam keputusasaan saya menundukkan kepala;
“Tidak ada damai di bumi,” kataku;
“Karena kebencian ada di mana-mana dan mengejek lagu tentang
Damai sejahtera di bumi,
Di antara manusia yang berkenan kepada-Nya!
Tetapi suara lonceng yang berdentang bergema semakin kuat;
“Tuhan tidak mati atau tertidur!
Yang jahat akan jatuh, yang benar akan menang,
Damai sejahtera di bumi,
Di antara manusia yang berkenan kepada-Nya!”
Lonceng terus berbunyi, berdentang,
Bumi berputar dari malam hingga pagi,
Suara lonceng, nyanyian agung, terdengar merdu,
Damai sejahtera di bumi,
Di antara manusia yang berkenan kepada-Nya!
Amin

NATAL YANG TEDUH

natal telah menjadi puisi alam raya
hiruk-pikuk pekik sorak hura-hura
apalagi cuma gegap gempita iklan
agaknya sudah tidak diperlukan
mohon jangan gaduh
sang bayi penebus bumi
masih tertidur nyenak
dalam dekapan bunda terkasih
semua ilalang, seisi kandang
adalah segala yang teduh
dalam syukur dan simpuh
ya, natal itu puisi alam raya
karena itu jangan gaduh
bumi kita telah ditebus
perlu istirahat dan tidur
ia sudah amat lelah
bekerja keras menata nasib
beri kesempatan ia bermimpi
biarkan ia merindu dan mencinta
merdeka dari segala tetek bengek
yang makin menjauhkan bumi kita
dari sang keabadian sendiri
Amin

SUKACITA NATAL

Pohon cemara menghiasi rumah kami,
Memancarkan semerbak harumnya nuansa Natal,
Setiap hati diselimuti suasana syahdu,
Menandakan Natal t’lah tiba..
Kue-kue, kalkun panggang,
Meja yang dipenuhi makanan-makanan manis,
Wajah-wajah kecil bercahaya penuh sukacita,
Semua orang bergembira..
Pesta perayaan, lagu-lagu yang mengalun, hadiah-hadiah yang indah,
Lonceng perak yang bergemirincing,
Pohon Natal dan pernak-pernik yang cantik,
Lampu berwarna-warni yang berkerlap-kerlip..
Sanak keluarga menanti dengan hati gembira
Menyambut dengan senyuman manis, pelukan hangat, dan kecupan sayang,
Inilah sukacita yang luar biasa
Yang hadir saat Natal tiba.
Amin

Mari Datang Kepada-Nya
Sarlen Julfree Manurung

Satu hari di bulan Desember
 Dentang lonceng Gereja riuh bersahutan Memanggil, 
mengundang anak-anak Tuhan untuk datang

Itulah kumpulan puisi yang dapat anda bacakan nantinya pada saat natal anak - anak sekolah minggu.
Selamat Natal Tuhan Yesus Memberkati


loading...